Essay Pendidikan / Pengabdian Pendidikan

MEMOAR: “IBUKU, AKU, DAN GENERASI EMAS GUNUNGKIDUL”

Duka dalam Hati, fikiran, jiwa, dan hidupku.

(Guru Penggerak di Kota Kecil, Wonosari, Gunungkidul, 22 Desember 2019)

Oleh: Ika Wulandari

“Ibu kenapa tidak tidur?”, tanyaku setiap kali kulihat ibu melamun duduk di sampingku dan cucunya yang telah terlelap. Ibuku lalu berkata: “Bagaimana bisa ada orang-orang jahat kepadamu, padahal kamu guru yang sangat peduli pada murid-muridmu, kamu berjuang untuk DIY, kenapa mereka tega berbuat demikian…”. Rasanya langit runtuh menimpa tubuhku. Apapun aku sanggup menghadapi, kecuali satu hal ini. Kondisi psikis seorang ibu berdarah jawa tulen, apabila ia terluka/ terpukul jiwa dan pribadinya. (Tragedi Finalis Guru SMK Berprestasi Utusan DIY Tingkat Nasional Tahun 2019)

 

Ibuku, aku, dan generasi emas Gunungkidul, memiliki kedekatan emosi yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Sejak ibuku terlahir kedunia hingga memoar ini kutulis,… ada banyak hal yang tercatat dan melekat pada nama kabupaten dimana aku dibesarkan. Duka yang benar-benar kuhayati sebagai sisi suram Kabupaten Gunungkidul dalam cerita ibuku, lalu kusaksikan sendiri hingga kini. Kisah pilu tentang: sulitnya kehidupan di daerah kering dan tandus, rendahnya tingkat pendidikan, banyaknya anak putus sekolah karena kemiskinan, yang tak berani bermimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi, yang harus pasrah dan mengganti kecewa serta deritanya menjadi tekad untuk bekerja sebagai buruh di kota-kota besar, banyaknya anak-anak terlantar korban perceraian, banyaknya purna buruh migran yang menganggur, dan masih banyak deretan keprihatinan yang kusaksikan di sini, di kota kecil tempatku dibesarkan dan bekerja sebagai guru.

Kutemukan ribuan tatap mata murid-murid yang mengandung banyak cerita, tanya, ragu, bercampur harap. Tatap mata yang sama dengan bayangan kisah masa lalu ibuku, perempuan yang dengan segala derita dan keterbatasannya, berjuang membesarkan dan menyekolahkanku. Ibu terpaksa putus sekolah, cita-citanya menjadi gurupun kandas, karena harus menjadi buruh di kota besar demi membantu keluarganya yang dalam kondisi sangat kekurangan. Ibu seperti lilin yang menerangi, namun dirinya sendiri hancur. Seperti itu pulalah yang saat ini kusaksikaan terjadi pada ribuan siswa SMK di kabupaten tempatku mengajar.

Tanpa kusadari, Ibu telah menitipkan cita-citanya kepadaku, melalui kisah-kisah pilu yang diceritakan. Dan karunia terindah dari Allah SWT adalah diangkatnya aku sebagai abdi negara, asisten, teman, dan sahabat bagi Generasi Emas Gunungkidul sejak Tahun 2009. Kusadari, aku telah jatuh cinta pada panggilan jiwa ini. Panggilan jiwa luar biasa, yang membuatku hampir tak pernah kehabisan semangat mewujudkan ide-ide kecil untuk mengatasi masalah-masalah dalam dunia pendidikan yang kami (aku dan murid-muridku) hadapi. Bagiku, tak peduli andaikan tak seorang manusiapun membantu, cukuplah Allah SWT menjadi penolongku dalam setiap usaha mewujudkan mimpi dan cita-cita: “Membangkitkan Jiwa Pembelajar Yang Semangat Belajar Sepanjang Hayat” dalam diri murid-muridku.

Anak kecil bernama Ika Wulandari yang bermimpi menjadi guru itu, kini telah tumbuh dewasa bersama mimpi besarnya. Menjadi guru kecil yang bekerja untuk Bangsa Indonesia. Tak ada keinginan dan mimpi yang lebih kuat daripada apapun, selain menemani murid-muridnya dari sekolah manapun di Kabupaten Gunungkidul untuk belajar dan berani bermimpi besar serta bersama-sama mewujudkan mimpi itu.

 Hingga suatu hari, terjadi tragedi yang menimpaku dan membuat ibuku shock, sedih, dan amat terpukul. Aku tak terlalu berani untuk bertanya detil kepada ibu apa yang membuatnya sangat terpukul. Yang kutahu kurang lebih demikian: suatu hari dalam suatu acara di kampung, ada seorang warga yang merupakan alumni sebuah kampus favorit di Yogyakarta, berkata pada ibu yang pada intinya memngucapkan selamat atas prestasi putrinya yang sedang mengikuti seleksi guru berprestasi tingkat nasional, namun di Grup WhatsApp kampusnya dibahas bahwa: “Ika Wulandari 98% Nge-blat (mencontoh) artikel orang lain”. Begitu sederhananya istilah “nge-blat” itu, sehingga ibuku yang tidak selesai mengenyam bangku SMP pun paham. Ibuku terpukul, shock, dan tak bisa tidur berhari-hari memikirkan nasib putrinya.

Tragedi itu dipicu oleh viralnya foto wajahku dan dugaan penjiplakan (similarity mendekati 98%) karya tulis best practice (Finalis Guru SMK Berprestasi Utusan DIY Tingkat Nasional Tahun 2019), yang tersebar dari juri lomba seorang Profesor di Grup WhatsApp mahasiswa S3 sebuah kampus ternama di Yogyakarta. Tragedi itu seperti yang tertuang dalam surat terbuka yang kutulis di blog guru mengabdi dan akun facebook pribadiku pada tanggal 25 November 2019 bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional: MENAGIH JANJI PAK MENTERI NADIEM ANWAR MAKARIM, MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN BELAJAR: “Berani Memperjuangkan Kebenaran”.

Aku merasa kehabisan kata, dan tidak tahu bagaimana caranya mengajak ibuku menjadi pribadi yang merdeka. Hidupnya sudah penuh derita, kejadian ini ternyata memukul jiwanya, mengganggu fikiran dan perasaannya. Cara berfikir kami berbeda, jika tidak melakukannya, mengapa kita harus menderita? Itu pribadiku. Namun aku paham sekali bagaimana pribadi darah jawa tulen seperti ibu dan murid-muridku. Bagaimanapun aku harus mengerti, perbedaanku dengan mereka. Dalam tubuhku mengalir kerasnya pribadi darah Palembang yang kuwarisi dari Ayah. Insha Allah aku mampu untuk kuat dan tatag menghadapi masalah-masalah demikian. Sebab cita-citaku tak sebanding dengan masalah apapun yang akan menghalangiku.

Sebuah pemikiran menggerakkanku, untuk berjuang membuktikan bahwa aku tidak melakukan yang dituduhkan banyak orang dalam kasus ini. Hanya dengan gigih memberikan progres tindakan nyata pada ibuku, yang mampu memulihkan rasa terpukul dan duka ibu. Hanya waktu dan proses perjuangan tak kenal lelah sajalah, yang akan membawa ibuku pada pemahaman tentang “kemerdekaan hidup = bagaimana cara kita memandang sebuah masalah”.

Bagiku mempelajari serta berusaha memecahkan masalah ini dengan teliti, hati-hati, dan gigih adalah satu-satunya cara menyelesaikan dan menjadikannya sebuah teladan kepada Generasi Emas Gunungkidul. Berharap dengan menyaksikan kegigihan dan keberanianku, ibu dapat terhibur sehingga mampu memerdekakan fikirannya. Selain itu berharap pula dapat menginspirasi murid-muridku untuk memperjuangkan kebenaran, mimpi, dan cita-cita sekalipun penuh dengan keterbatasan diri.

Bersyukur Allah SWT memudahkan dan menguatkan jiwaku dalam menghadapi masalah ini. Sehingga dalam tekanan yang hebat sekalipun, semua tugas dapat selesai dengan baik, dan bahkan tetap dapat melaksanakan kegiatan pengabdian pendidikan seminggu sekali. Konsep ikhlas bukan berarti menyerah tanpa syarat. Saya menerima semua yang terjadi, dengan tetap memperjuangkan kebenaran tanpa amarah/ dendam pada siapapun yang menghakimi tanpa mengecek kebenarannya.

Banyak hal yang kucatat sejak awal kasus muncul hingga hari ini, tentang sikap dan tanggapan para oknum pemimpin, yang seharusnya cerdas mendengarkan dan mengayomi warganya dengan asas praduga tidak bersalah, namun faktanya jauh dari kata bijaksana. Fenomena ini biasa dialami orang-orang kecil sepertiku. Benar kata ibu: “Orang kecil itu, sekalipun benar seperti apapun umumnya tetap dikambinghitamkan/ diinjak”. Dan bagiku seorang perempuan yang sejak kecil dikenal dengan jiwa pendobrak dan tak kenal menyerah, sudah pasti sering mengalami hal semacam ini.

Pengalaman luar biasa ini meninggalkan sebuah tekad yang kuat dalam dada, bahwa aku tidak akan berhenti mendidik Generasi Emas Gunungkidul, menjadi manusia-manusia berjiwa pembelajar yang merdeka, dan pemberani. Berani memperjuangkan dan membela kebenaran. Kelak akan lahir pemimpin-pemimpin yang menjiwai kepemimponannya. Pemimpin yang punya integritas, punya pendirian, dan prinsip kuat sehingga tidak mudah hanyut terbawa arus buruk lingkungan. Bukan sekedar penjilat yang gila hormat, sehingga mata hatinya buta terhadap kebenaran. Bukan pula yang rela mengorbankan bawahan demi memenangkan teman/ atasan/ pejabat/ public figure sekalipun padahal jelas-jelas dia salah.

Setelah menempuh berbagai jalur sejak 14 Agustus 2019 untuk mengklarifikasi secara informal dan formal kepada Kementrian Pendidikan, serta dengan menulis surat tertutup resmi kepada ULT Kemdikbud RI, dan surat terbuka kepada menteri pendidikan yang saya posting di blog pribadi serta akun pribadi facebook pada 25 november 2019, akhirnya pada tanggal 26 November 2019 Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud RI bersurat kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY dengan Nomor: 7632/B4.5/GT/2019 perihal Fasilitasi. Surat tersebut ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY dengan undangan bernomor: 005/12219, tanggal surat 29 November 2019, perihal mediasi dan klarifikasi antara Ika Wulandari dan Profesor yang menjadi Juri yang memposting foto wajah saya beserta diskusi tentang hasil cek similarity mendekati 100% sehingga viral dugaan penjiplakan best practice ini di media social lainnya.

Mediasi dan klarifikasi tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 4 Desember 2019, pukul 10.00 WIB, di Ruang Sidang Kecil Dinas Pendidikan Dikpora DIY. Fasilitasi ini dihadiri oleh:

  1. Salah satu Profesor Juri Lomba Gupres Tk. Nasional,
  2. ULT Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud
  3. Kasubdit Kesharlindung (Kasubdit baru),
  4. Seorang Pegawai Kesharlindung Dikmen & Diksus,
  5. Seorang Pegawai Kesharlindung Dikdas,
  6. Kepala Dinas Dikpora DIY,
  7. Sekretaris Dinas Dikpora DIY,
  8. Kabid GTK Dinas Dikpora DIY,
  9. Kabid Dikmen Dinas Dikpora DIY,
  10. Kepala Seksi SMK
  11. Kasubbag Kepegawaian Dikpora DIY
  12. Kepala Balai Dikmen Kabupaten Gunungkidul,
  13. Ika Wulandari didampingi suami.

Fasilitasi dan mediasi tersebut berlangsung sejak pukul 11.00 wib hingga sekitar 15.30 WIB. Diskusi yang amat panjang dan melelahkan. Di bawah ini notulen fasilitasi dan mediasi tersebut:

  1. Semua peserta dipersilakan masuk, sedangkan Suami Ika Wulandari dilarang masuk. Hal ini dikarenakan adanya batasan bahwa ini hanya masalah kekeluargaan Dinas Dikpora DIY dan Kementrian. Diluar itu dilarang masuk. Pembawa acara mengira bahwa suami Ika Wulandari adalah lawyer/ aparat penegak hukum, sehingga peserta sepakat melarang masuk.
  2. Acara dibuka dengan paparan yang lebih pada anggapan/ pemahaman dari Dikpora DIY tentang masalah dan pribadi Ika Wulandari. Dinas menganggap bahwa Ika Wulandari bersikap tidak dewasa, membuat masalah kecil menjadi masalah besar yang menghabiskan energy banyak pihak. Ketidakdewasaan Ika Wulandari dinilai dari dilibatkannya LBH, Ombudsmen, lawyer, yang mengindikasikan akan membawa masalah ke ranah hukum. Dinas meminta agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan hari ini juga, saling memaafkan, dan masalah dianggap selesai.
  3. Kasubdit Kesharlindung Dikmen & Diksus (pejabat baru), memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa kehadirannya adalah untuk memberikan perlindungan kepada guru Ika Wulandari. Selain itu disampaikan bahwa masalah ini bermula dari adanya Juri yang upload foto dan data panitia.
  4. Pegawai kesharlindung dikdas dan dikmen memberi penjelasan seperlunya terkait kronologi dan pemahaman mereka tentang kejadian ini. ULT tidak mengijinkan petugas membuka data apapun, karena ULT Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud akan menjawab surat Ika Wulandari secara resmi. Petugas operator scaning best practice menggunakan Turnitin menyampaikan bahwa, karya Ika Wulandari memang terkomparasi dengan karya Ika sendiri, bukan karya orang lain. Hal ini dimungkinkan karena karyanya tersimpan saat scaning di akun Turnitin milik Cedar Valley College. Petugas menyimpan di akun turnitin UNJ (repository) untuk keperluan komparasi. Petugas mengakui bahwa dirinya pun baru tahu tentang detil temuan hasil Turnitin yang dipaparkan Ika Wulandari hari ini.
  5. Profesor menyampaikan bahwa beliau hanya meng-upload foto Ika Wulandari dan menyampaikan data similarity DIY 98%. Beliau menyampaikan bahwa tidak pernah menyebut nama Ika Wulandari sebagai plagiat. Adapun yang menyebut nama Ika Wulandari adalah orang lain. Dan jika di grup WhatsApp lainnya pembicaraan berubah dari similarity tinggi menjadi plagiat, itu bukan tanggungjawab profesor. Profesor merasa beliaulah yang dicemarkan nama baiknya dengan adanya surat terbuka yang diposting Ika Wulandari. Profesor akan mengklarifikasi kesalah pahaman ini hanya dalam grup WhatsApp beliau saja, tidak untuk grup lain/ public. Profesor juga menjelaskan, bahwa similarity tinggi itu tidak berarti plagiat. Harus dicek secara mendalam untuk memastikan bahwa sebuah karya itu plagiat atau bukan.
  6. Pihak Pembawa acara (Dikpora DIY) menyampaikan kekagetannya dan berterima kasih atas ilmu dari Profesor. Beliau baru tahu bahwa similarity tinggi tidak berarti plagiat. (artinya pemahaman beliau sebelum fasilitasi ini terjadi adalah bahwa similarity tinggi sama dengan plagiat).
  7. Ika Wulandari memohon maaf karena telah merepotkan banyak pihak, dan berterimakasih kepada semua pihak yang membantu fasilitasi, serta berterimakasih Dirjen GTK yang telah menindaklanjuti surat, serta telah melakukan advokasi non litigasi berupa fasilitasi penyelesaian perkara diluar pengadilan dalam bentuk mediasi, sesuai peraturan Mendikbud RI No. 10 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Bagi pendidik dan Tenaga Kependidikan.
  8. Ika Wulandari menjelaskan, bahwa ia tidak pernah berniat membawa masalah ini ke ranah hukum. Adapun mengapa berkonsultasi pada LBH dan Ombudsmen adalah agar tidak salah melangkah karena buta hukum. Maka semua yang dilakukan berdasarkan saran dari LBH dan ombudsmen.
  9. Ika Wulandari sebagai Pemimpin Editor Jurnal Nasional Edugy, sangat memahami penjelasan profesor, bahwa similarity tinggi tidak berarti plagiat, masih perlu penyelidikan lebih lanjut untuk memutuskan apakah itu plagiat atau bukan. Namun jangankan orang awam pada umumnya, bahkan mahasiswa sekelas dua kampus ternama di DIY pun mendiskusikan dan menganggap bahwa similarity = plagiarism. Dan hal itu bermula dari postingan foto wajah dan info data similarity lomba dari Profesor.
  10. Ika Wulandari menyampaikan bahwa masalah ini tak perlu diperbesar, karena memang sudah merupakan masalah besar, terkait pencemaran nama baik tuduhan melakukan kejahatan akademik yang telah viral di media social, bukanlah masalah kecil. Besar atau kecilnya masalah tergantung paham atau tidaknya (punya ilmunya atau tidak) seseorang pada permasalahan tersebut.
  11. Ika wulandari memohon agar timnya yaitu suami, diijinkan masuk untuk mendampingi. Ika menjelaskan bahwa suaminya bukan lawyer ataupun aparat penegak hukum seperti yang dikhawatirkan/ dikira banyak pihak. Ika Wulandari juga memohon agar acara diskors untuk ibadah solat duhur dahulu. Permohonan ini dikabulkan.
  12. Tim Ika Wulandari menjelaskan kronologi kejadian, dampak yang dirasakan dalam kehidupan akibat adanya masalah ini (pencemaran nama baik), serta bukti-bukti screenshot diskusi dalam salah satu WhatsApp Grup mahasiswa UNY dan UGM, bukti-bukti otentik hasil cek similarity pertama kali oleh tim Dikpora DIY yang mana hasil similarity sangat rendah di bawah 25% pada best practice Ika Wulandari dan seluruh kontingen DIY. Artinya sudah lolos dari dugaan plagiat berdasarkan hasil cek scaning Turnitin dalam pendampingan resmi dari Dikpora DIY.
  13. Ika menjelaskan bahwa surat terbuka untuk Menteri yang di upload di akun facebook dan blog, sama sekali tidak menyebut nama dan instansi Profesor. Sehingga tentu tidak mencemarkan nama baik beliau. Sedangkan untuk surat tertutup resmi untuk kementrian, menyebutkan nama beliau 1 kali, dalam rangka memohon kepada kemendikbud agar memfasilitasi masalah ini dengan beliau. Namun demikian Ika Wulandari atas nama pribadi dan keluarga memohon maaf apabila dengan adanya postingan tersebut, membuat masyarakat menduga-duga siapakah Profesor Juri tersebut, sehingga menciderai nama baik beliau.
  14. Karena pihak kesharlindung dilarang membuka data, maka Ika Wulandari berinisiatif untuk membuka data hasil scan 10 guru berprestasi dari berbagai provinsi. Pihak dikpora melarang Ika menayangkan data. Namun karena LCD sudah terpasang dan konek, saat itu juga data terbuka. Ika Wulandari menjelaskan dengan detail hasil penelusurannya menggunakan akun resmi pemberian Perusahaan Turnitin.
  15. Ika Wulandari menanyakan, bagaimana bisa 7 karya milik guru berprestasi dari berbagai daerah tersimpan di akun UNJ dan Cedar Valey Colledge pada tiga tanggal yang sama. Apakah ada SOP (Standar Operasional Prosedur) panitia dalam scaning turnitin yang mengharuskan karya terauto save dalam repositori? Ataukah hanya inisiatif pemimpin/ panitia sendiri? Jika ada SOP, kenapa peserta lomba jenjang lain (ada 3 best practice, selain jenjang dikmen) tidak di save dalam repository turnitin UNJ?
  16. Ika Wulandari menjelaskan karya best practice 7 peserta guru berprestasi (yang bersedia di cek oleh tim Ika Wulandari), itu tersave di repository akun Turnitin pada tanggal yang sama yaitu: 25 Juli 2019 dan 1 Agustus 2019 pada misuse akun Turnitin Cedar Valley Colege, serta 13 Agustus 2019 pada akun Turnitin UNJ. Sedangkan pada saat itu, Softfile telah diambil panitia dengan mendatangi ke daerah-daerah pada Tanggal 16 Juli 2019, dan tanggal 24 Juli 2019 hardfile dan softfile dalam flashdisk juga sudah dikirim peserta ke Jakarta.
  17. Pihak Manager Turnitin Ausie serta Petugas Turnitin Perwakilan Indonesia yang ditemui Ika Wulandari pada 17 September 2019 di UII, menjelaskan bahwa kejadian ini bukan plagiarism, melainkan hanya masalah teknis dimana file tersimpan secara otomatis dalam akun Turnitin ketika diseting repository. Sedangakan akun Turnitin Cedar Valley College adalah misuse akun. Pihak Perusahaan Turnitin Ausie dan Indonesia menyatakan bersedia membantu masalah ini apabila diperlukan.
  18. Terlepas dari siapakah yang menyimpan dalam repository akun Turnitin, artinya Guru Berprestasi pemilik artikel Best Practice tidak melakukan plagiat. Karena seluruh kalimat sama persis 100% dengan karya itu sendiri. Hal seperti ini bisa dikatakan auto plagiarism jika karya yang sama telah dipublikasikan pada Jurnal/ Lomba/ tempat publikasi resmi lainnya.
  19. Namun sangat tidak mungkin peserta guru berprestasi dalam rentang waktu telah masuk tanggal pengumpulan best practice (16 Juli sudah dikumpulkan), kemudian berani mempublikasikan di tempat lain. (tersimpan di akun Turnitin setelah tanggal 16 Juli).
  20. Selain itu, bagaimana bisa 7 paper dari berbagai provinsi bisa tersimpan pada tanggal yang sama pada akun Turnitin UNJ dan misuse akun Cedar Valley College?
  21. Ika Wulandari menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan plagiat/ menjiplak dari web manapun, dan belum pernah mempublish best practice untuk lomba Guru Berprestasi ini pada kegiatan publikasi ilmiah manapun. Kecuali terkait cek similarity dan upload pada web kesharlindung dikmen dalam rangka lomba ini.
  22. Berdasarkan analisis kronologi kejadian, serta analisis dokumen secara teknis dibantu oleh Super admin Perusahaan Turnitin Perwakilan Indonesia, jelas bahwa kejadian ini hanyalah kesalahan teknis scaning paper sehingga tersimpan dalam akun Turnitin (alat scaning similarity).
  23. Ika Wulandari dan Profesor telah saling memaafkan. Ika Wulandari menyampaikan bahwa dirinya tidak marah/ dendam. Ika fokus pada menemukan fakta kebenaran, dan mendapatkan solusi untuk memulihkan nama baik yang telah tercemar di media sosial.
  24. Ika Wulandari menyayangkan tindakan Profesor, dan jika benar tidak bermaksud menuduh plagiat, mengapa tidak memberi penjelasan/ mengkounter pendapat/ diskusi anggota grup WhatsApp saat peserta grup menyampaikan kecewa dan malu, serta akan mengadakan pembinaan dengan adanya similarity yang tinggi pada guru berprestasi DIY?.
  25. Petugas dari ULT Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud, menyampaikan agar semua pihak menunggu surat resmi dari pihaknya. Selain itu ULT menegaskan bahwa, tindakan Profesor meng-upload foto dan membahas hal tersebut di grup medsos tidak dibenarkan. Sekalipun tidak menyebutkan nama, namun justru foto itu jauh lebih valid dan berakibat fatal ketika orang lain mengartikan berbeda dengan maksud kita.
  26. Fasilitasi dan mediasi ditutup dengan kesepakatan akan menunggu ULT Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud menjawab surat pengaduan Ika wulandari secara resmi.

Selanjutnya surat “Jawaban Pengaduan” dari ULT Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud tertanggal 5 Desember 2019 dengan nomor: 140984/ A5.4/ HM/ 2019 telah saya terima dengan isi sebagai berikut:

  1. Bahwa Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus telah mengirim surat kepada Dinas Pendidikan Provinsi DIY dengan nomor 7632 tanggal 26 November 2019 untuk melakukan mediasi terkait pengaduan Ika Wulandari;
  2. Pihak panitia lomba Pemilihan Guru SMK Berprestasi Tingkat nasional Tahun 2019 tidak pernah menyatakan adanya perbuatan plagiat;
  3. Secara Informal telah dilakukan komunikasi dengan Profesor oleh Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dan kasubdit Kesharlindung agar Profesor bersedia mengklarifikasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut Ika Wulandari dapat menghubungi saudara Afif Rezza atau saudari Uswatun Hasanah di Biro Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud melalui nomor telpon yang tertera.

Membaca surat tersebut, saya tertegun. Perjalan panjang ini belum tuntas, atau bahkan tak akan pernah tuntas, kecuali saya anggap selesai. Masih banyak tanya yang belum terjawab dan mengganjal. Namun saya mengerti, dengan sebenar-benarnya pengertian. Masalah saya ini bukan masalah besar bagi mereka. Saya sadar, seseorang tak akan dapat merasakan derita yang dikecap orang lain, ketika dirinya tidak paham masalahnya, tidak pernah merasakan apa yang dirasakan korban dari perbuatan mereka.

Saya ingin sekali bertanya, bagaimanakah jika masalah ini terjadi kepada mereka? Dan ibu mereka harus mengalami seperti yang ibuku alami? Ibuku bukan hanya menderita sejak kecil karena kemiskinan, melainkan juga harus merasakan luka akibat kandasnya rumah tangga. Derita fisik dan psikis yang sering beliau rasakan dalam kandasnya rumah tangga adalah sebagai perempuan yang tak berdaya, dihina, dan direndahkan karena dianggap tidak berpendidikan tinggi dan miskin. Dan ibu masih harus berduka atas kedzaliman yang menimpa putrinya.

Saya berusaha menelpon ULT Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemdikbud, namun tak pernah sekalipun tersambung. Email yang saya kirimkan juga belum dibalas. Saya ingin menanyakan. Bagaimana kongkritnya penyelesaian dengan Profesor dimana public (media social) lebih mempercayai beliau dan memahami bahwa Ika Wulandari dengan similarity 98% sama dengan melakukan plagiat? Sedangkan Profesor telah menyatakan (pada saat mediasi) bahwa beliau hanya akan mengklarifikasi di grup WhatsApp mahasiswa beliau saja, dan diluar itu beliau merasa bukan tanggungjawabnya.

Sejenak sebagai guru saya ingin mengenang kalimat terbaik yang disampaikan purna siswaku yang sekarang menjadi mahasiswa UGM, Joko Susilo: “Bu Ika, kita bisa membayar orang untuk bekerja dan bersuara, namun kita tak bisa membayar orang untuk berkata jujur!”. Benar sekali apa kata guru kecilku itu, bahwa kejujuran/ integritas itu tak ternilai harganya, tak terbeli. Kita tak bisa memaksa orang untuk berkata jujur. Tak ada manusia yang ingin/ mau disalahkan. Jangan melihat orang dari jubah yg ia kenakan. Ustad, kyai, pastor, biksu, guru, guru besar, penegak hukum, hingga pimpinan pun sangat mungkin untuk tidak jujur agar tidak disalahkan. Filosofi Jawa yang mengatakan bahwa kesatria itu jika salah maka seleh, dan jika benar maka maju terus pantang mundur, mungkin hanya ada di dunia pewayangan saja.

Kepada Ibuku yang tercinta dan seluruh Generasi Emas Gunungkidul yang aktif mengikuti kegiatan komunitas guru mengabdi,… Ijinkanlah aku meletakkan masalah ini di hamparan sajadahku, sudah sangat jauh langkahku. Cukuplah semua perjuangan ini sebagai catatan bagi ibu dan seluruh siswaku, bahwa Ika Wulandari bukan pecundang yang lari dari kenyataan atau tidak berani menghadapi masalah/ halangan/ rintangan. Ika Wulandari telah sekuat tenaga menembus batas ketakberdayaan/ keterbatasannya dengan gigih untuk memperjuangkan sebuah kebenaran.

Saatnya kita menikmati setiap karya, inovasi, dan kegiatan yang bermanfaat untuk memajukan kabupaten Gunungkidul. Kondisi alam yang kering dan tandus, tak boleh membuat oase dalam jiwa kita turut kering. Mari kita memerdekakan jiwa ini, tetap bersemangat memperjuangkan kebenaran, mimpi, cita, dan cinta. Menjadi pemenang adalah sebuah keharusan, karena kita bukan pecundang. Kita harus menang, mengalahkan harimau dalam diri kita sendiri. Dia adalah ketakutan dan kemalasan dalam diri.

Kesuksesan seorang guru pembelajar yang merdeka dalam belajar adalah keberhasilannya mengajak (memaksa) dengan elegan semua pihak untuk duduk bersama dan belajar. Terakhir mari seluruh Generasi Emas Gunungkidul untuk bersungguh – sungguh:

  1. Bangkit dari Keterpurukan, dengan Berprasangka Baik Pada Allah SWT.
  2. Hapus kebodohan dan Keterbelakangan, dengan Semangat Belajar Sepanjang Hayat.
  3. Putus rantai kemiskinan dengan Berwirausaha Cerdas sekarang juga.

 

Wassalamualaikum Warahmatullohi Wabbarokatuh,

Salam perjuangan!

Guru Penggerak yang berjiwa Merdeka

 

Ika Wulandari, M. Pd.

Author

ikawlndr123@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *